Cerpen Karangan Sri YantiKategori Cerpen Inspiratif, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan Lolos moderasi pada 29 March 2017 Hujan membungkus desa. Awan gelap menggumpal-gumpal, petir sekali dua menyambar. Dingin. Kurapatkan selimut menutupi tubuh sembari menatap hujan lewat jendela. Deras. Hujan membasahi teras depan, pohon-pohon, jalan depan, bunga-bunga, toko-toko, belum lagi sekolah yang esok paginya akan becek, licin, yang jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Minggu sore yang dihiasi rintihan hujan. Mataku redup menatap ke luar, sedari tadi aku menangis. Dan mungkin air mataku telah habis kutumpahkan, hanya sendu yang tersisa. Tadi habis ashar. Aku dan orangtuaku membicarakan tentang melanjutkan kuliah. Kami bukan orang yang mampu. Bukan orang yang bisa membayar uang kuliah yang bisa mencapai puluhan juta. Ayahku hanya seorang sopir, dan ibuku penjual kue. Apalah dayaku yang tidak bisa melanjutkan kuliah. Hanya menangis menatap hujan. Desa kami terpencil, terluar dan tertinggal. Bukan mudah mencari ilmu yang banyak di sini. Kami para siswa yang miskin buku dan pengetahuan. Harga buku mahal sekali, dan di desa kecil kami tidak ada toko buku, paling hanya kamus yang dijual. Itu saja. Tidak ada novel, komik, majalah, buku pengetahuan yang lebih mendalam, buku lulus UN, tidak ada. Di sekolah, Fasilitas buku kami belum lengkap. Buku-buku yang ada bisa terhitung lama, dan banyak yang berdebu. Ruang perpus yang tidak leluasa. Bagaimana kami memperoleh ilmu yang lebih? Lalu jika ingin kuliah harus membayar mahal sekali. Atau jalur kuliah lain dengan mengemban gelar anak berprestasi’. Bisa apa aku? Siswi sederhana yang miskin ilmu. Jangankan hal yang lebih sulit dari itu, mendapatkan nilai un standar saja hanya angan-angan. Aku hanya bisa berdoa, dan berusaha. Dan itu adalah hal terbaiknya, dalam langit-langit doa, aku punya harapan. Aku punya mimpi yang selalu kuucapkan sehabis sholat. Setidaknya aku percaya mukjizat, keajaiban, yang datangnya dari ALLAH. Usaha selalu berbanding lurus dengan hasil, aku percaya itu. Selama aku berusaha, selama aku giat, ada jalan. Aku harus bisa. Just do it. Senin pagi yang becek. Mendung masih tergantung di langit, sisa-sisa hujan kemarin sore. Namun sekolah kami tetap melaksanakan upacara bendera. Tidak ada hari Senin tanpa upacara, itulah sekilas motonya. Maka mulai hari ini, saat sang bendera merah putih berkibar gagah di langit. Aku memulai habit baruku. Mulai merangkai mimpi kecilku, memompa semangat dalam hati, berusaha sekuat tenaga, aku harus mencari pelangi setelah gelapnya mendung. Aku harus bisa! Aku harus kuliah, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, meraih janji kehidupan yang bermutu. Setelah ini aku berusaha sekuat tenaga, belajar lebih giat. Tak kulewatkan satu mata pelajaran pun, jika aku tak mengerti bertanya pada guru, meminjam buku dari berbagai sumber, mencari informasi dari internet, belajar sampai larut, dan bangun lebih awal untuk belajar. Tak peduli jenuh yang kurasakan saat belajar, meskipun kantuk yang menyergapku ketika larut dan subuh. Aku percaya pada mimpiku. Mustahil? Ah mereka yang mengatakan itu takan pernah mengerti rasanya berusaha. Aku selalu ingat pesan moral yang satu ini “Bermimpilah setinggi langit maka saat kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Aku menanamkan pesan ini dalam sekali, jauh di dasar hatiku. Aku merangkai mimpi, dan berusaha semampuku. Aku menangis, namun tetap membaca. Hatiku berat dan jenuh belajar, aku tetap berfikir. Tak ada waktu yang kusia-siakan bahkan saat membantu ibuku menjual kue, aku mengerjakan soal-soal. Aku berusaha. Dan tibalah saat pengumuman kelulusan. Aku gugup, gemetar, mual, entahlah. Ini saat yang mendebarkan dalam hidupku. Saat-saat menentukan. Apakah aku lulus atau tidak, apakah nilaiku memenuhi beasiswa atau tidak, aku tidak tahu. Aku telah berusaha semampuku, dan aku pasrahkan semua hasil usaha itu. Dan jika ternyata tidak sesuai harapan, ini mungkin bukan jalanku. Aku harus mengubur mimpi itu, dan mencari jalan lain. Merangkai masa depan yang berbeda. Aku menatap lurus ke depan. “…Rima Asya dinyatakan…” Detik-detik yang lama sekali. Aku pasrah pada hasilnya. Apapun itu. “… Tidak lulus!!” Cairan bening itu menggenang, dan mengalir deras di pipi. Aku terisak. Suaraku parau di tengah teman-teman yang mulai memelukku prihatin. Inikah bintang? Meskipun aku ikhlas, pasrah dengan keadaan, tetap saja terluka. Aku ikhlas.. Namun air mataku tak berhenti mengalir. Aku kuat.. Namu hatiku terasa sakit sekali. Aku pasrah.. Namun rasa kecewa itu ada. Nama teman-teman lain masih disebutkan. Menggema tidak jelas di pendengaranku, lidahku Kelu tak sanggup memberi selamat, atau menguatkan yang lain. Aku tak sanggup tersenyum saat ini. Sakit. Dan saat penutupan, ketika kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Dia tersenyum padaku. Aku hanya menatap sendu. Wajahku tak jelas dengan tangis yang sedari tadi mengalir. “… Adapun yang ingin bapak sampaikan adalah, tetaplah berkepribadian yang baik, berusaha sekuat tenaga, … Dan bapak bangga sekali tahun ini, salah satu siswa kita meraih nilai yang sangat baik saat ujian nasional, nilai yang sangat memuaskan, sangat membanggakan.. Dan saking bangganya bapak, serta guru-guru, kami memutuskan menjahili siswa tersebut. Dia adalah Rima Asya dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata Riuh menggema satu sekolahan, tepuk tangan ramai bak dengungan lebah, namaku dielu-elu kan. Aku yang antara sadar dan tidak hanya menatap bingung. Tidak percaya. “Selamat yah ri!” Kata mereka. Aku di peluk, air mata ku mengalir. Dan aku sadar ini semua berkat karunia ALLAH semata. Aku bersujud di tanah. Astaga, ini lelucon yang mengharukan dalam hidupku. Terima kasih kepala sekolah. Terima kasih guru-guru. Dan terima kasih sahabat-sahabatku tercinta. Kami semua tenggelam dalam euforia kelulusan. Semarak sepanjang jalan, meramaikan. Dan tentu saja aku bahagia menyerahkan tiket beasiswa pada orangtuaku. Anak perempuannya ini, berhasil bersinar di antara bintang-bintang. Cerpen Karangan Sri Yanti Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan Sri Yanti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kolak Pelangi dan Sholat Dhuha Oleh Farhan Ramadhan Ramadhan pasti identik dengan pasar dadakan. Di antara kerumunan pedagang yang jumlahnya puluhan itu, terlihat seorang gadis bersama ibunya sedang berjualan kolak. Namanya Aisyah. Sekarang Aisyah dan ibunya menjadi Kemenangan Di Tangan Kita Oleh Lukman Umar Kemenangan adalah hal yang ingin diraih dalam suatu kompetisi. Dalam sepak bola kemenangan adalah hal yang diinginkan sebuah tim untuk meraih juara. Di suatu pagi yang cerah di lapangan Vegetarian Oleh M. Ubayyu Rikza Menjadi seorang vegetarian kadang membuatku repot. Ya, begitulah menjadi spesies unik di tengah mayoritas manusia yang menjadi omnivora. Entah aku menjadi salah satu orang yang ditugaskan menjadi penyeimbang dunia, He Is My Brother Oleh Ilham Sullivan Anya membuka pintu kamarnya, kemudian segera berjalan ke depan pintu kamar Axel. Anya menatapnya dengan kesal, kemudian memukul pintu itu dengan keras sampai tangannya sendiri terasa sakit. “Axel! Bisa My Hero Oleh Ayu Sekarningsih Angin pantai memeluk lembut tubuhku, memutar pasir, dan mengibarkan rambut yang kubiarakan bebas tergerai. Bisikan-bisikan lembut angin seakan menelisik jauh ke dalam diriku, mengucapkan salam rindu dari seseorang yang “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Jadicerpen perjuangan anak untuk ibu ini bukanlah kisah anak durhaka yang menderita kehidupannya tetapi cerita menyentuh hati dan mengharukan tentang perjuangan hidup meraih mimpi untuk ibu bisa memiliki rumah. Dikisah dalam cerpen sedih mengharukan ini, sebuah keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal selalu diusir karena tidak bisa bayarUploaded byRizki Febria Satriadi 100% found this document useful 3 votes2K views5 pagesOriginal TitleCERPEN MERAIH MIMPICopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document100% found this document useful 3 votes2K views5 pagesCerpen Meraih MimpiOriginal TitleCERPEN MERAIH MIMPIUploaded byRizki Febria Satriadi Full descriptionJump to Page You are on page 1of 5Search inside document You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.Berikutrekomendasi film tentang perjuangan dalam meraih mimpi. 1. Laskar Pelangi 2. Menjadi sekuel dari filmnya yang pertama, film Laskar Pelangi 2 menceritakan tentang perjuangan dua orang laki-laki bernama Ikal (Lukman Sardi) dan Arai (Abimana Aryasatya) saat meneruskan kuliah di Prancis. Mencari ilmu di negeri orang memang tidaklah mudah Cerpen Karangan Oki AnggaraKategori Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan, Cerpen Pengalaman Pribadi Lolos moderasi pada 20 March 2015 Perjuanganku dimulai sejak masuknya XII. Kenapa? Semenjak masuk SMA, tidak mempunyai pikiran sama sekali untuk kuliah. Sangat buta akan dunia perkuliahan. Bahkan, jurusan-jurusan yang ada di Universitas pun aku tak tahu. Tadinya aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMK, tapi karena orangtuaku masih belum mengizinkan ku bersekolah jauh-jauh, akhirnya orangtuaku memilihkan untuk melanjutkan ke SMA. Aku ini anak semata wayang. Dari SD, SMP, hingga SMA, aku bersekolah di Kecamatan yang sama. Bukan hanya itu, lulusan sekolah aku hampir 70 persen melanjutkan kerja. Dan mungkin 30 persen yang melanjutkan kuliah. Sempat terpikir olehku untuk melanjutkan kerja saja dahulu. Aku berasal dari keluarga sederhana, dari mana orangtuaku membiayaiku untuk melanjutkan kuliah?, sungguh, itu pemikiran klasik. Pikiranku masih pendek sekali waktu itu. Tapi, niat dan pikiran itu terbantahkan oleh guru geografi. Di sela waktu belajar, saat itu masih kelas XI. dia pernah berkata “Kalian itu harus melanjutkan kuliah. Jangan tidak melanjutkan kuliah. Kalian jangan memikirkan masalah biaya terlebih dahulu, sekarang itu ada beasiswa yang namanya BidikMisi. Kalo kamu tidak mampu mempunyai biaya kuliah, kamu akan mendapatkan beasiswa asalkan kamu masuk Universitas tersebut. Tak hanya itu, kamu akan mendapatkan uang saku perbulannya” Kata-kata pengantar nan sederhana itu, yang terus mengingatkanku agar aku harus tetap kuliah. Aku termasuk siswa yang aktif di sekolah kak jadi aku tak pernah berhenti untuk terus mencari informasi. Itu bekalku yang pertama yang menghantarkanku untuk meraih mimpiku. Yang kedua, aku ini senag bermain Sosial Media juga. Banyak infomasi seputar kuliah yang aku dapat dari Sosial Media salah satunya dari info_SNMPTN dan infomasukPTN. Saat itu kakak kelas retweet tentang SNMPTN. Rasa penasaran muncul, dan akhirnya bekepo ria. Alhasil, aku tahu kalo SNMPTN ialah salah satu jalur seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Berbagai informasi telahku dapat. Dari kedua bekal tersebut, hati pun mulai bulat. Kalau aku harus melanjutkan kuliah!! Tak terasa, waktu terus berjalan dan mengantarkanku memasuki pintu gerbang kelas XII. Orang bilang, pintu awal sebuah karier. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki nilai raport, di semester ini nilai raport harus maksimal, dan berharap agar bisa lolos SNMPTN Jalur Undangan. Tersadar, bahwa nilai raport semester satu dan dua tidaklah bagus bahkan bisa dikatakan biasa aja. Walaupun ada sedikit rasa percaya diri karena di semester tiga dan empat menempati ranking 2 dan 1 di kelas, tapi hal itu tidak menjamin bisa lolosnya SNMPTN. Apalagi penilaian SNMPTN dilihat melalu berbagai aspek serta indeks sekolah. Di awal semester 5 ini, aku mengikuti pelajaran dengan baik dan terus bersungguh-sungguh. Persiapan Ujian Nasional dan SBMPTN Jalur Tes Tulis ku tata agar se-seimbang mungkin. Saat itu, banyak teman-teman yang sudah mulai mnegikuti bimbingan belajar di luar sekolah untuk persiapan Ujian Nasional, karena di sekolah biasanya mengadakan bimbel persiapan Ujian Nasional di awal bulan November. Sempat minder karena banyak temen-temen yang mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, aku ingin seperti mereka agar persiapanku lebih matang menghadapi Ujian Nasional. Mencoba meminta brosur ke salah satu tempat bimbingan belajar, dan memberanikan diri untuk berkata kepada ibu, “mah, mau ikut bimbingan belajar persiapan Ujian Nasional di luar sekolah”. Tapi… Apalah daya, ibuku tidak mengizinkan untuk mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Memang, rincian biayanya cukup besar bagi kelurga kami. Dan akhirnya, keinginan itu hanya menjadi angan semata. Berbagai rencana dan strategi ku tata sedemikian rapih untuk menghadapi Ujian Nasional dan SBMPTN. Aku membuat target, kalau bulan agustus ini, aku harus mempunyai buku latihan dan soal-soal SBMPTN. Aku selalu menyisihkan uang jajan sekolah untuk membeli buku itu. Tidak mau mererepotkan orangtua. Tapi, Uang yang ku kumpulkan tak pernah mencukupi untuk membeli buku itu, karena banyaknya tugas-tugas dari sekolah sehingga uang yang terkumpul dengan terpaksa aku gunakan. Aku tak pernah meminta uang kepada ibuku untuk mengerjakan tugas, kalaupun harus meminta itu jarang-jarang karena uang simpananku tak mencukupi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bulan oktober pun tiba. Alhamdulillah. Aku mendapat infomarsi, kalau FISIP UI mengadakan acara Try Out SBMTPN seJabodetabek dan Bandung. Kucoba untuk mengajak teman-temanku, tapi sayang. Respon mereka tak selalu bagus, ada yang bilang “yaelah ki, masih lama. Fokus UN aja dulu! Lebay lu ah” jleb deh. Ada yang mengabaikan perkataanku karena mereka memang tidak minat untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku respon dengan baik. Aku bilang kalau persiapan kita lebih lama pasti kan lebih matang. Persiapan menjelang Try Out terus dilakukan, terus berlatih dengan buku yang baru ku beli itu. Aku latihan setiap pulang sekolah, dan sebelum tidur. Dan tetap menyisihkan uang untuk bisa mengikuti Try Out tersebut tanpa menambah beban orangtua. Enggan rasanya untuk menadahkan tangan, ketika aku sedang berjuang untuk membahagiakan mereka. Waktu Try Out pun tiba, antara senang dan deg-degan bisa mengikuti Try Out tersebut. Banyak pengalaman yang didapat, semakin tahu bagaimana ketatnya persaingan SBMPTN nanti. Dan hasilnya? aku selalu bersyukur atas segala apa yang ku dapat. Berada di urutan ke 333 dari 1500 lebih peserta seJabodetabek dan Bandung. Temanku yang mengikuti Try Out juga ternyata hebat-hebat! Si K diperingkat ke 249. Si D peringkat ke 429, tetapi si A ada diperingkat 1300. Tapi hasil itu bukanlah suatu acuan, itu hanya seJabodetabek dan Bandung, bukan seNasional! Dan… Bulan desember tiba. Alhamdulillah, aku mendapat buku gratis latihan soal-soal SBMPTN dari kak Riris. Dia seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jawa Barat, dia seorang motivator terutama untuk kelas XII. Selalu memberikan nasihat, bimbingan, dan pengalaman dia seputar SBMPTN. Banyak sekali ilmu yang didapat darinya. Sebelumnya, dia mengadakan kuis yang berhadiah buku latihan soal-soal SBMPTN. Dan aku berhasil memenangkan kuis tersebut dengan seorang perempuan asal Jember. Aku semakin percaya diri untuk menembus pintu gerbang PTN itu. Di bulan ini juga, Alhamdulillah. Aku berhasil melukiskan senyuman terindah pada ibuku. Saat itu, hari ibu bertepatan dengan pembagian raport semester ganjil. Semua orangtua diundang ke sekolah, sebelum pembagian raport ada pengarahan dari Kepala Sekolah, semua orangtua dikumpulkan dalam satu tempat, dan dipenghujung acara tersebut, diumumkan siswa-siswi terbaik kelas dan jurusan. Alhamdulillaah, Puji syukur. Aku mendapat predikat siswa tebaik di kelas, dan terbaik di XII IPS. Sungguh, tak menyangka akan hal ini. Senang rasanya, dipanggil untuk naik ke atas panggung dan mengambil piagam penghargaan bersama ibu tersayang. Di hari ibu, aku bisa memberikan hadiah yang terbaik untuk ibuku. Dan saat itulah aku merasakan bahwa “Kerja Keras itu Tak Akan Mengkhianati” Sesampainya sampai di rumah ibu berbicara padaku “pertahankan terus prestasimu nak! Ibu bangga kepadamu. Semangat terus untuk menggapai cita-cita mu. Kamu tak usah memikirkan biaya, ibu dan bapak akan berusaha terus mencari uang” Aku diam tertegun, dan sedih. Aku harus bisa menggapai mimpi-mimpiku. Aku harus bisa terus membuat orangtuaku bangga. Aku harus membuat mereka bahagia, sekarang dan sampai mereka tua nanti. Tahun 2013 pun datang. Jeng jeng! *drum roll* Persiapan dan persiapan terus dilakukan. Latihan soal, mengikuti Try Out di luar, doa dan ibadah terus dilakukan. Di awal tahun ini, aku terus memotivasi diriku sendiri. Ku tulis semua mimpi-mimpiku di secarik kertas kecil lalu ku tempelkan di papan mimpi di kamar, agar di setiap bangun tidur, aku terus bersemangat untuk meraih mimpi-mimpi tersebut. Berbagai quote yang ku dapat, aku salin lalu temple di papan mimpi. Di awal tahun, antara bulan januari – februari. Aku masih seimbangkan amunisi untuk Ujian Nasional dan SBMPTN. Namun, memasuki bulan maret – april aku hanya fokus kepada persiapan Ujian Nasional. Kenapa? Karena saat itu aku mendapatkan informasi dari Kemdikbud kalau nilai Ujian Nasional menjadi tiket untuk masuk PTN Jalur SNMPTN. Bagaimana ini? Akhirnya ku putuskan untuk fokus Ujian Nasional. Ujian Nasional tiba. Inilah perjuangan awalku untuk menggapai mimpi-mimpiku. Aku siap menghadapi Ujian Nasional, meskipun rasa deg-degan terus menyelimuti. Banya godaan di Ujian Nasional sendiri, kunci misalnya. Tapi aku tak pernah tergiur. 20 paket soal. Ngapain? Mending fokus. Kalo Ujian Nasional ciut, bagaimana SBMPTN? Aku tetap berpegang teguh pada pendirian. Sia-sisalah perjuanganku salma ini kalau harus dinodai dengan sebuah kunci. “UN itu bagaikan Cacing, dan SBMPTN itu bagaikan Ular” Ujian Nasional berlalu, langsung move on. Aku langsung sigap berpaling kepada SBMPTN, karena sudah lama dia ku tinggalkan. Nah, disini. Setelah Ujian Nasional, kegalauan itu muncul lagi. Lagi, brosur-brosur bimbingan belajar persiapan SBM itu bertebaran dimana-mana. Banyak juga teman-temanku yang ikut bimbingan belajar. Aku iri, Aku juga ingin mengikuti bimbingan belajar seperti mereka. Aku coba memberanikan diri kembali untuk berbicara kepada ibu ku. Dan, seperti biasanya, orang tuaku tidak mengizinkan dengan alasannya seperti biasa. “sekarang kamu coba belajar sendiri aja dulu nak. “lahaulawalla”. Ibu sama bapak ada uang juga untuk persiapan kamu ke Bandung. Belum ongkos, dan biaya hidupkamu disana.” Sempat bingung. Dalam perkataan itu, ada makna. Bahwa ibu percaya, kalau Aku pasti akan ke Bandung. Dan menuntut ilmu disana. Orangtua suka memikirkan apa yang tak pernah terpikirkan oleh ankanya. Akhirnya, ku coba belajar sendiri. Dengan buku-buku soal yang ku punya. Sempat bosan, karena belajar sendiri itu tidaklah selalu menyenangkan. Apalagi disaat ada materi yang tak dimengerti. Perasaan ingin mengikuti bimbel persiapan SBM itu pun muncul lagi. Aku berputar pikiran, bagaimana caranya aku harus bisa mengikuti bimbingan belajar tanpa membebani orangtua. Terbesit dalam hati, ingin menjual Hand Phone kesayangan untuk dijual dan uangnya untuk tambahan biaya bimbingan belajar. Tapi aku tak berani mengambil langkah itu begitu saja. Aku meminta izin terlebih dahulu pada ibu. Karena bagaimanapun handpone itu pemberian dia. Sayang, ibu tak mengizinkan. Dia malah memarahiku. Mungkin ibu kesal kepadaku, karena aku terlalu “memaksa”. Niat itu aku urungkan. Aku terus belajar sendiri. Kenapa tidak meminta bantuan sama temanmu yang ngerti? Sudah ku coba, sebelumnya selalu meminta diajari dia. Bahkan sebelum masa-masa persiapan Ujian Nasional. Entah mungkin karena dia bosan. Setiap aku menghubungi dia, tak pernah dia merespon. Perjuangan ini tak boleh berhenti sampai disini. Aku terus belajar sendiri. Aku harus bisa memahami materi-materi ini tanpa penjelasan dari orang lain. Tapi hanya dari buku ini sendiri. Alhamdulillah, materi demi materi pun mulai aku pahami. Allah selalu memberi kemudahan bagi hambanya yang mau berusaha. Tapi, tak selalu materi ku pahami dengan baik. Matematika Dasar. Aku mengalami kesulitan di materi itu. Aku terus mancari cara. Aku coba untuk menghubungi guru matematika di sekolah, dan memintanya untuk mengajari ku. Awalnya, dia mengenakan tarif dan cukup besar harganya. Sambil becanda di sms, aku meminta diskon. Dan membujuknya sambil mambicarakan hal-hal ringan. Akhirnya dia mau mengajariku secara suka rela. Setiap tiga hari dalam seminggu aku mengunjungi rumahnya, dengan waktu yang tidak ditentukan. Kadang dua hari seminggu, atau satu hari seminggu. Ya, aku bimbel mengikuti rutinitas dia. Kalau dia sempat dia mengajariku, kalau dia sibuk bagaimana lagi, aku harus kembali belajar sendiri. Tak terasa pengumuman Ujian Nasional tiba, deg-degan dengan hasil yang akan kulihat. Tapi apapun itu, itulah perjuangan dan kemampuanku. Nilai Ujian Nasional ku kecil. Bingung, ini bagaimana? Tapi ya sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Yang terpenting fokus pada cita-cita. Jelang beberapa setelah pengumuman Ujian Nasional. Pengumuman SNMPTN tiba. Rasa deg-degan itu muncul lagi. Aku berharap aku bisa lolos seleksi ini. Antara percaya diri dan tidak. Aku terus berdoa dan beribadah, aku mempunyai nazar. Aku harus khatam qur’an sebelum pengumuman. Di tiap seminggu menuju pengumuman, beberapa hari lagi menuju pengumuman aku selalu bicara pada ibuku. Aku selalu minta doa dia. Hari H pengumuman. Pengumuman itu dimajukan. Hari senin. Saat itu aku diam di rumah dan terus berdoa, taaapiii. Temanku tiba-tiba datang ke rumah. Ngapain? Ya. Mereka mengajak main. Kemarinnya mereka memang sudah telpon aku. Tapi aku menolak ajakan itu. Entah kenapa tiba-tiba meraka datang ke rumah. Mereka bersikukuh mengajakku main. Aku tolak terus, bahkan kami sempat berdebat di rumahku. Memang kami sudah lama tak bertemu, mereka mengajakku main bukan ke mall atau semacamnya. Mereka ngajakku ke tempat air terjun Mereka sudah berkuliah dan kerja, ada yang mau UTS esok harinya, dia bilang mau refreshing dulu katanya. Tapi tidak pas dengan kondisiku. Bingung, mereka sudah ke rumah. Kalau aku tolak mereka, pasti perasaan mereka sangatlah tak nyaman. Disaat pengumuman seperti ini, tidak mau membuat orang lain kesal kepadaku. Tapi aku tak mau bersenang-senang sebelum ada kepastian. Dengan berat hati, aku ikut dengan mereka. Di sepanjang jalan dan di tempat tujuan, aku merasa tak tenang, terus merengek dan meminta pulang lebih cepat. Akhirnya, kami pulang. Dan, hujan pun datang!. Kami basah kuyup. Sampai maghrib aku masih di perjalanan. Sampai di rumah. Aku masuk angin, dan saat itu sedang shaum. Disaat kondisi badan seperti ini, belum melihat hasil pengumuman. Aku terus bicara pada ibuku, kalau aku deg-degan, lalu ibu menyuruhku untuk mandi, sholat, lalu makan dulu sebelum melihat hasil pengumuman. Nazarku sudah terpenuhi. Alhamdulillah aku sudah khatam sebelum pengumuman. Setelah semuanya selesai. Aku duduk di ruang tengah, bersiap-siap untuk melihat pengumuman. Dan ingin segera membalas sms teman-teman yang menanyakan lolos atau tidak. Mulai membuka hasil pengumuman.. Bismillah.. Seketika tulisan kata “MAAF” dalam kotak merah itu muncul. Diam tepaku. “oki gagal bu”. Masih diam menatap layar itu. Tiba-tiba, ibuku merangkulku, dia menangis dan memelukku. “ya sudah, kamu harus sabar, ini yang tebaik untuk kamu. Ibu selalu melihat usaha-usaha mu, tapi kali ini bukan rezeki mu” dengan nada yang tesedu-sedu itu, ibu berbicara padaku sambil memelukku. Hanya bisa terdiam, seketika air mata ikut mengalir. Tak tahan melihat ibu sedih, tak tahan melihat ibu mengangis. “Yaelah, ngapain dibawa sedih. Udah gak usah nangis. Perjalanan masih panjang”. Celetuk bibi. Tak mau berlarut-larut terus dalam kesedihan. Harus terus berjuang untuk meraih cita-citaku, kembali fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi SBMPTN. Karena gagal dalam SNMPTN bukanlah akhir dari segalanya!. Allah ingin melihat kerja kerasku yang lebih. Aku terus membuat perubahan. Waktu belajar ku tambah lagi dan lebih ekstra, serta doa dan ibadah harus dan perbanyakku lakukan. Dan… Pengumuman SBMPTN pun tiba. Jeng-jeng! *drum roll* Di pengumuman ini, aku tidak lagi melakukan apa yang pernah ku lakukan disaat menjelang pengumuman SNMPTN. Karena ku yakin, kalau ingin mendapatkan hasil yang beda. Kita harus melakukan hal yang berbeda. Aku tak selalu bicara pada ibuku lagi “bu, 1 minggu lagi pengumuman. Deg-gedan ni” “bu, 1 hari lagi pengumuman. Deg-gedan”. Tidak! Ku coba pendam rasa ini dalam hati, dan menenangkannya sendiri. Kalau terus bicara pada ibuku, pasti beban pikiran ibu bertambah. Aku ini kan niatnya ingin membuat dia bahagia. Lalu, mirip hampir mirip, lagi temanku mengajakku ke mall. Meminta antar untuk membeli jam katanya, tapi untuk yang ini ku tolak dengan biak-baik. Dan, beberapa jam menuju pengumuman. Ibu minta anter ke pasar, sore waktu itu. Aku mengantarkan ibuku terlebih dahulu, twitter sudah ramai kalau pengumuman sudah bisa di akses. Bunyi sms juga mulai datang satu-persatu menanyakan hasil penngumuman. Sempat ingin buka pengumuman di pasar, tapi. Ah! Kondisinya tak enak. Masa buka pengumaman di pasar Sesampainya di rumah, langsung bersiap-siap. Sudah berada di depan layar sendiri, ibu di kamar mandi sedang mencuci, bibi belum pulang kerja, sama bapak juga. Dengan rasa deg-degan, dan bismillah, ku buka web itu. Dan… Segala Puji Bagi “SELAMAT” itu muncul di kotak berwarna biru, bukan kotak berwarna merah lagi. Seketika itu aku langsung diam, tak percaya, aku langsung berteriak pada ibuku yang di kamar mandi “bu, aku lolos bu. Aku lolos” dan air mata itu, mengalir dengan sendirinya keluar. Aku langsung menghampiri ibu ke kamar mandi. Ibu kaget mungkin, melihatku menangis sambil berkata yang kurang jelas. Tapi akhirnya ibu mengerti kalau aku lolos SBMPTN. Pendidikan Sosiologi – Universitas Penididikan Indonesia. Aku langsung merangkul ibuku, dengan penuh air kebahagiaan. “iya Alhamdulillah, ibu seneng mendengarnya”. “iya bu, Alhamdulillah usahaku selama ini tidak sia-sia bu” “iya, kamu bangun setiap pagi, puasa, pasti kamu mempunyai maksud, Allah mendengarkan doamu nak” Peristiwa itu, takkan pernah terlupakan. Yang tadinya ibu merangkulku disaat ku gagal. Kini aku merangkul ibuku disaat aku berhasil. Cerpen Karangan Oki Anggara Blog Oki Anggara lahir di Bogor, Jawa Oktober 1995. Kegemarannya menulis cerita mulai tumbuh ketika mulai duduk di bangku kuliahnya. di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UPI, Bandung. Pendidikan formal tingkat menengah dan atasnya diselesaikan di SMP Negeri 2 Citeureup 2010 dan SMA Negeri 1 Citeureup 2013. Saat ini penulis masih menjalankan studinya di Jurusan Pendidikan Sosiologi, UPI, Bandung. Cerpen Perjuanganku Untuk Menggapai Mimpiku merupakan cerita pendek karangan Oki Anggara, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " SPK Depkes Makassar in Memorial Oleh Afif Natsir Gema suara adzan subuh seakan mengusik sang pemimpi yang tengah lelap dalam dekapan selimut di atas tilam yang tak pernah jenuh menahan beban yang tak pernah absen menemani tuan Makna Sebuah Piala Oleh Arizqa Shafa Salsabila “Dasar bocah b*ngsat!!” Teriak pria bertubuh besar itu. Matanya yang sangat tajam dan terkesan sangar mampu membuat bulu romaku merinding ketika sekilas ditatapnya. Tak bisa ku bayangkan seperti apa Kepercayaan Untuk Cinta Kita Oleh Jovian Caesar Kringgg… Kringgg… Kringgg… alarm hanphoneku berbunyi, ohhh no!! Sudah jam Aku harus bergegas menuju kampusku yang jaraknya cukup jauh itu, dari Tangerang menuju Jakarta Selatan, hari ini ada Disiplin Itu Penting Untuk Kehidupan Oleh Novita Indriyani Hai teman-teman, namaku Siska Wati aku anak kedua dari tiga bersaudara, umurku sekarang 21 tahun, kebiasaan burukku terjadi ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, umurku waktu itu Burung Beo Sang Kyai Oleh Miftahul Anam Kullu nafsin dzaiqotul maut. Siapa yang tidak mengenal Michel Jackson, artis ternama berkulit hitam itu. Dulu, sebelum masuk pesantren aku sangat mengidolakannya. Apalagi setelah operasi plastik, wajahnya menjadi semakin “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Setiaporang punya mimpi dalam hidupnya. Cerpen 'meraih cita cita dari rumah'. Hari ini hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Di sini saya akan membagikan sedikit cerita mengenai perjuangan meraih perguruan tinggi negeri. Cerpen motivasi, cerpen perjuangan lolos moderasi pada: Akan mungkin bisa meraih impianku" (dengan tersenyum kecil dan mengusap wajahnya). Selamat hari sumpah pemuda, 28 oktober!
CerpenBerjudul Mimpi Posted on 16/07/2019 by admin Kali ini kami akan menyajikan cerpen atau cerita pendek yang terbilang cukup unik dan seru untuk diikuti. silahkan simak dengan baik cerpen yang ada []
ArticlePDF Available AbstractNovel Ranah 3 Warna merupakan novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Cerita fiksiyang diambil dari kisah nyata penulis ini telah menjadi novel best seller yang diterbitkanKompas Gramedia pada tahun 2009. Kisah dalam novel ini banyak memberikan inspirasidan merupakan salah satu novel pembangun jiwa. Penulis menuliskan setiap bab dalamnovel ini dalam bahasa yang mudah dibaca dan sesuai dengan latar belakang penulis, yaitujurnalis. Hal itu membuat novel ini memiliki karakteristik tersendiri dalam Man Shabara Zhafira siapa yang bersabar maka dia akan beruntung’ merupakankonsep penulisan yang subjektif dan mengajak pembaca tanpa harus memaksa dengan kata-kata hiperbola yang berlebihan. Selain itu, penulis menampakkan jati dirinya sebagai orangMelayu melalui kalimat pantun asli Minangkabau yang banyak berserakan di lembaran bukuini. Sebuah paradoks ditemukan ketika berada di negara orang lain. Rasa nasionalisme yangmuncul berbeda dengan berada di negara sendiri yang tidak pernah berada di posisi kompleksitas masalah, cara pemecahan, dan penggambaran setting tempatberlangsungnya cerita disampaikan dengan baik dan menjadi nilai tambah buku kedua biladibandingkan dengan buku pertamanya, Negeri 5 Menara. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 102RESENSI BUKUMENYIBAK PERJUANGAN MENGGAPAI MIMPI DAN CITA-CITA MELALUI “MAN SHABARA ZHAFIRA”Irani HoeronisBalai Bahasa Bandung, Jalan Sumbawa 11 Bandung 40113Telepon 081323864485, Pos-el nengira masuk 20 Maret 2012 – Revisi akhir 3 April 2012Identitas BukuJudul Ranah 3 WarnaPenerbit PT Gramedia Pustaka Utama, JakartaCetakan Ke-3Tahun Cetakan Januari 2011Jumlah Halaman 473Penulis Ahmad Fuadi 103 IRANI HOERONIS MENYIBAK PERJUANGAN MENGGAPAI MIMPI DAN CITA-CITA...Biodata Penulis BukuAhmad Fuadi lahir di Bayur, kampung kecil di pinggir Danau Maninjau, tahun merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama diPondok Modern Gontor. Lulus kuliah Hubungan Internasional, Unpad, dia menjadiwartawan majalah Tempo. Tahun 1999, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2di School of Media and Public Affairs, George Washington University, USA. Sambil kuliah, diamenjadi koresponden Tempo dan wartawan Voice of America VOA. Tahun 2004, diamendapatkan beasiswa Chevening Award untuk belajar di Royal Holloway, University of Lon-don untuk belajar film dokumenter. Sebagai seorang scholarship hunter, Fuadi selalubersemangat melanjutkan sekolah dengan mencari beasiswa. Sampai sekarang, Fuadi telahmendapatkan 8 beasiswa untuk belajar di luar negeri. Penyuka fotografi ini pernah menjadiDirektur Komunikasi The Nature Conservancy, sebuah NGO konservasi internasional. Kini,Fuadi sibuk menulis, menjadi pembicara dan motivator, serta membangun yayasan sosialuntuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu—Komunitas Menara. Penghargaanyang pernah diraih diantaranya adalah Nominasi Khatulistiwa Award 2010 dan Penulisdan Buku Fiksi Terfavorit 2010 versi Anugerah Pembaca PendahuluanNovel Ranah 3 Warna merupakan novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Cerita fiksiyang diambil dari kisah nyata penulis ini telah menjadi novel best seller yang diterbitkanKompas Gramedia pada tahun 2009. Kisah dalam novel ini banyak memberikan inspirasidan merupakan salah satu novel pembangun jiwa. Penulis menuliskan setiap bab dalamnovel ini dalam bahasa yang mudah dibaca dan sesuai dengan latar belakang penulis, yaitujurnalis. Hal itu membuat novel ini memiliki karakteristik tersendiri dalam Man Shabara Zhafira siapa yang bersabar maka dia akan beruntung’ merupakankonsep penulisan yang subjektif dan mengajak pembaca tanpa harus memaksa dengan kata-kata hiperbola yang berlebihan. Selain itu, penulis menampakkan jati dirinya sebagai orangMelayu melalui kalimat pantun asli Minangkabau yang banyak berserakan di lembaran bukuini. Sebuah paradoks ditemukan ketika berada di negara orang lain. Rasa nasionalisme yangmuncul berbeda dengan berada di negara sendiri yang tidak pernah berada di posisi kompleksitas masalah, cara pemecahan, dan penggambaran setting tempatberlangsungnya cerita disampaikan dengan baik dan menjadi nilai tambah buku kedua biladibandingkan dengan buku pertamanya, Negeri 5 PembahasanSeorang anak bernama Alif yang berasal dari Maninjau berhasil menyelesaikanpendidikannya di Pondok Madani. Dia belajar di Pondok Madani atas paksaan orang tuanyatetapi Alif bisa melaluinya dengan hasil yang memuaskan. Alif merupakan tokoh kuat dalamnovel pertama, Negeri 5 Menara dan novel kedua, Ranah 3 Warna. Cita-cita Alif belajar hingganegara Amerika terpupuk dengan baik hingga kelulusannya dari Pondok pengalaman dan pendidikan yang didapatnya di Pondok Madani, Alif berjuangkeras menggapai cita-citanya. Perjuangan Alif tidak semulus dan semudah yang harus berjuang keras mendapatkan ijazah persamaan karena latar belakangpendidikannya bukan berasal dari sekolah umum. Selain itu, Alif juga harus berjuang mati-matian selama 3 bulan untuk mendalami pelajaran selama 3 tahun di sekolah umum. 104, Vol. 5 No. 1, Juni 2012 102—106Berbekalkan nilai ujian persamaan ijazah, Alif memutuskan untuk mendaftar di jurusanHubungan Internasional, Unpad, dan mengubur keinginannya untuk bisa bersekolah dijurusan penerbangan, seperti Habibie. Alif mampu lulus UMPTN meskipun orang-orang dilingkungan sekitarnya, khususnya teman karibnya, Randai, meragukan keyakinan dan Alif di Bandung penuh dengan gejolak emosi. Mulai dari pertentangannyadengan mahasiswa senior karena pola pendidikan yang diterapkan tidak sesuai denganharapan dan keinginan Alif dan kawan-kawan, pertemuan dengan Bang Togar, mahasiswasenior majalah kampus Kutub, yang memberikan semangat untuk bisa menulis dalam harianumum nasional, pertemuan dengan Raisa, gadis yang tinggal di depan kostnya yang membuathati Alif terasa tentram dan sejuk, hingga pada kondisi ketika Alif disuruh pulang olehemaknya karena kesehatan ayahnya menurun. Padahal, surat sebelumnya mengabarkankeinginan emak dan ayahnya untuk bisa mengunjungi Alif di Bandung. Kondisi kesehatanayah Alif sempat membaik setibanya Alif di Maninjau. Namun ketika Alif memutuskanuntuk pulang ke Bandung, tiba-tiba kondisi ayah Alif ayahnya, Alif hanya memerlukan waktu satu pekan untuk tinggal hinggaakhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Bandung. Ancaman emak untuk tidakmeninggalkan kuliah membuat Alif memutuskan untuk mencari pekerjaan. Ia menjadi guruprivat, menjual barang katalog, dan memasarkan kain Minang. Ujian yang datang sepertinyatidak pernah berhenti. Alif dihadang dua orang yang hendak mengambil barang-barangdagangannya. Dalam kondisi yang lemah setelah seharian memasarkan barang jualan, Alifhanya pasrah ketika tas barang jualannya diambil. Ketika sampai di depan kost-an, Aliftidak sanggup menahan berat badannya dan seketika itu limbung tidak sadarkan Man Shabara Zhafira siapa yang bersabar maka dia akan beruntung’, menyuntiksemangat Alif setelah 3 minggu Alif terbaring lemas karena penyakit tifusnya. Alif harusmencari cara untuk bisa bertahan hidup di Bandung. Gemblengan yang diberikan oleh bangTogar untuk menyempurnakan teknik menulis Alif, mampu membuat Alif bertahan denganmenulis di surat kabar lokal bahkan sampai nasional melalui honor yang untuk pergi ke luar negeri tidak pernah pupus, Alif masih bersikukuh untuk bisasampai ke Amerika. Jalan itu terbuka ketika Alif bertemu dengan Asti dalam bis kota. Tanpadisangka-sangka, Alif bertemu dengan Randai dan Raisa dalam pendaftaran programtersebut. Alif mencoba menenangkan rasa canggung yang menghinggapi dirinya dan Randaidalam percakapan singkat mereka bersama Raisa. Pertemuan Alif dengan Randai dan Raisadalam tes tulis membuat persaingan memenangi program pertukaran tersebut menjadisemakin sengit. Alif bertekad untuk bisa memenangi program tersebut sebagai balasan diatidak berhasil masuk ITB dan akan membuat Raisa terkesan dengan hasil tes tulis pertama, ketiga orang tersebut lulus dan berhak masuk ke tahapanseleksi selanjutnya, yaitu tes kesenian tradisional. Namun, langkah Randai harus terhenti dites wawancara terakhir dan menyisakan Alif dan Raisa yang berhasil lolos dalam teskesehatan dan wawancara. Alif mendapat kelompok pembekalan dengan beberapa temandari berbagai daerah dan yang paling penting Alif sekelompok dengan Raisa, gadis yangdisukainya. Tiga bulan Alif habiskan untuk mempersiapkan diri tinggal di Quebec, dan kawan-kawan sampai di Montreal, Kanada, disambut oleh panitia di bandaradan dibawa ke penginapan YMCA, sebuah hostel di Rue de Trudeau. Alif mendapat homo-logue dari Quebec bernama Francois Pepin, tetapi harapan awal supaya bisa berbahasa inggrisdengan fasih musnah sudah, ternyata Franc, begitu biasanya dipanggil, tidak begitu fasihberbahasa kerja di Saint-Raymond sangat berkesan bagi Alif dan rekan-rekan. Yangbisa mencetak prestasi tertinggi akan diberikan piagam dan medali. Alif yang berpasangan 105 IRANI HOERONIS MENYIBAK PERJUANGAN MENGGAPAI MIMPI DAN CITA-CITA...dengan Patrick mendapat kesempatan kerja di Panti Jompo, tetapi Topo meminta Alif untukbertukar tempat karena Topo sedang melakukan penelitian tentang orang-orang lanjut pun bertukar tempat dan Alif bekerja di SRTV, stasiun televisi lokal bersama di Hotel de ville atau Balai Kota, mereka disambut oleh Walikota Saint-Raymond dan para orangtua angkat. Alif dan Franc mendapat orangtua angkat dari keluargaLepine, Ferdinand dan Madeleine. Keluarga Lepine merupakan keluarga yangmenyenangkan di mata Alif dan Franc. Mereka senang memasak dan kebersamaanmenciptakan kehangatan tersendiri. Cerita tentang referendum yang akan diselenggarakantiga bulan kemudian untuk membahas pemisahan Quebec dari Kanada menjadi salah satutopik terhangat yang dibicarakan saat makan malam peringatan perkawinan dan Franc mendapat jam siaran sendiri setiap minggu, khusus meliput kegiatanyang dilakukan para peserta program pertukaran Indonesia-Kanada di Saint-Raymond. Alifmemiliki tekad untuk bisa menjadikan referendum sebagai topik untuk memenangi berusaha keras untuk mendapatkan wawancara eksklusif dengan tokoh utama keduakubu, yaitu tokoh antiseparasi, Daniel Janvier dan tokoh proseparasi, Jacques Paquet. Hariyang bersejarah pun tiba ketika sebuah faks masuk menyampaikan kesediaan MonsieurJavier dari partai antiseparasi untuk diwawancara. Proses wawancara berjalan dengan lancardan mendapat respons yang sangat baik dari penonton, bahkan acara wawancara tersebutsampai diputar tiga itu, wawancara dengan seorang suku keturunan Indian asli, bernama LanceKatapatuk dari suku Algonquin Anishinabeg menjadi salah satu topik hangat yangdibicarakan warga Quebec. Banyak telepon dan surat masuk ke redaksi yang memintatayangan itu diputar ulang. Hal itu membuat Alif dan Franc semakin bersemangat untukmembuat acara-acara unik lainnya. Selanjutnya, mereka membuat liputan tentang kehidupanteman-teman Indonesia dan Kanada di tempat kerja masing-masing dan menggali interaksimereka dengan rekan dan lingkungan kerja masing-masing. Ada gejolak batin yang dirasakanAlif ketika Alif harus mewawancarai Raisa. Alif tidak bisa menyembunyikan perasaansukanya terhadap Raisa, dia harus mengendalikan perasaan grogi dan bersikap dingin yang melanda Quebec tidak menghalangi terlaksananya referendum yangdimenangkan oleh kubu proseparatis. Semua berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatanyang menimbulkan kekacauan. Di suatu pagi, Ferdinand mengajak Alif memancing di atasDanau Lac Sept-Iles yang sudah membeku. Pengalaman pertama Alif dan membangkitkankenangannya semasa di pondok Madani. Sesampainya di rumah, Alif bercerita mengenaikegemarannya memancing belut dan membuat seisi rumah terheran-heran dengan caraorang Indonesia memancing cerita tentang meriahnya perpisahan yang dibuat oleh anak-anak Indonesiadalam acara e Festival de la Culture et de la Gasrtonomie d’Indonesienne dan keberhasilan Alifmemenangkan medali bersama partner-nya? Apakah Alif berhasil memenangkan hati Raisadan mewujudkan mimpinya dapat hidup bersama dengan Raisa? Bagaimana dengan Randai?Bagaimana beratnya orang tua angkat Alif melepas Alif dengan Franc? Anda harus membacanovel ini yang mampu membangkitkan semangat berjuang untuk mempertahankan cita-cita dengan kesabaran dan PenutupPenokohan dalam cerita Ranah 3 Warna ini didominasi oleh empat tokoh. Alif sebagaitokoh utama, Raisa dan Randai sebagai tokoh yang mempengaruhi dan memotivasi 106 IRANI HOERONIS MENYIBAK PERJUANGAN MENGGAPAI MIMPI DAN CITA-CITA...kehidupan Alif. Randai adalah seorang Minangkabau yang dengan berbagai pantun dapatmenyegarkan suasana kehidupan Alif ketika berada di Kanada dan menjadi ksatria berpantunyang menebarkan lema melayu dalam buku 3 warna memberikan motivasi besar untuk mengejar mimpi dan cita-cita. Tidakhanya bermimpi tetapi kisah Alif juga mengajarkan cara meraih mimpi. Tidak cukup denganberusaha dengan sekuat tenaga tetapi juga dibarengi dengan kesabaran. Buku kedua inimampu menginspirasi pembaca, lebih hidup dan menarik dibandingkan dengan bukupertamanya. Pembaca tidak akan merasa bosan mengikuti alur cerita karena setiap bagiannyamenggambarkan latar yang berbeda. Alif mampu mewujudkan mimpi yang dipandangsebelah mata oleh teman-temannya dan mampu membuktikan eksistensi dankemampuannya terhadap orang-orang disekitarnya. Mantra Man Shabara Zhafira mampumewakili keseluruhan isi novel dan digambarkan dalam alur permasalahan yang dapatdiselesaikan oleh mantra tersebut dengan bertahan menghadapi segala macam yang diraih Alif, pada akhirnya menjadi bukti bagaimana Man Jadda Wajadadan Man Shabara Zhafira menjadi kunci motivasi utama dalam meraih mimpi dan cita-cita ditengah segala keterbatasan yang dimiliki Alif. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.CerpenTentang Perjuangan Meraih Mimpi. Cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya bagaimana cara berbakti dan menghormati kedua orang tua ketika masih hidup kisah cerita dalam cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya adalah contoh perjuangan meraih sukses demi ibu tercinta.
Cerpen Karangan NiLuh Rika DiantariKategori Cerpen Fantasi Fiksi Lolos moderasi pada 20 March 2015 Aku Hellen Scott, hari-hariku setiap hari sangat kelabu sejak orangtuaku bercerai, setiap hari hanya memikirkan keterpurukanku, di sekolah hanya ada 2 sahabatku, Bryan Cabrol dan Leoni Maria, hanya mereka yang selalu menemaniku, aku punya 3 mimpi, yang pertama orangtuaku kembali bersatu, yang kedua menjadi Seorang Dosen English ternama, dan yang ketiga bisa Memiliki Bryan. “Lagi memikirkan apa itu?” kata seseorang mengagetkanku dan ternyata adalah Leoni, “Haduuh, mengagetkan saja” jawabku “Hehe, maaf-maaf” Tiba-tiba guru bahasa datang ke kelas dan kami mulai belajar dengan fokus. Okey pelajaran hari ini sudah berakhir, waktunya pulang. Di rumah aku bekerja sebagai penjaga toko, aku bekerja paruh waktu dari jam sore sepulang sekolah hingga malam jam agar bisa terus hidup dan bersekolah, karena orangtuaku menterlantarkanku begitu saja, dan aku bangun pada pukul pagi setiap hari agar bisa belajar, tak apalah waktu tidurku berkurang untuk MERAIH MIMPIku. Keesokan paginya di sekolah ibu guru memanggilku ke ruangan kepala sekolah, ada apa ya ini?, padahal aku sudah melunasi semua pembayaran, tetapi mengapa aku dipanggil?, sesampainya di ruangan kepala sekolah aku dipersilahkan duduk dan ia berkata “Hellen, kami tim sekolah sudah menyeleksi 250 siswa yang ada dan hanya kamu yang berhak mendapatkan beasiswa untuk pergi belajar ke Amerika Serikat dengan jurusan Sastra Inggris, kami juga melihat dari sisi kerajinan, keuletan dan ketekunanmu selama ini, apakah kamu menyetujuinya? Dan kami memberimu waktu berfikir 2 hari dari sekarang, dan sekarang kamu saya persilahkan kembali ke kelas” kata kepala sekolah “baik, bu, saya permisi” jawabku “iya” kata kepala sekolah. Aku menceritakan semuanya kepada kedua sahabatku, dan mereka berkata “Iya, sebaiknya kamu belajar disana dan agar kamu dapat MERAIH MIMPImu yang terbesar” kata mereka, dan aku menyetujuinya. Keesokan harinya aku menemui kepala sekolah, “permisi bu” kataku dan ia mempersilahkanku duduk “Bagaimana keputusanmu Hellen?” tanya kepala sekolah “Iya, bu, saya sudah memikirkannya matang-matang dan saya menyetujui beasiswa tersebut” jawabku “oke, baik Hellen, kamu akan berangkat sore ini” jawab kepala sekolah senang. Sorenya aku ke Bandara ditemani sahabatku dan ibu kepala sekolah, perpisahan ini begitu menyedihkan tetapi juga menyenangkan. 3 Tahun berlalu, kini aku sudah memiliki gelar, aku sekolah selama 3 tahun karena selalu mendapat percepatan kelas, kini aku aku akan MERAIH kedua MIMPIku yang selanjutnya, aku mengunjungi rumah Leoni dan ternyata ia sudah menikah, aku mengenang banyak masa lalu dengannya, tidak lupa juga ke sekolah dan mengucapkan banyak terimakasih dengan guru-guru yang ada, terutama kepala sekolah. 10 hari aku mencari pekerjaan dan aku mendapatkannya, aku bekerja di Elizabeth International dan menjadi dosen disana, aku berjalan melihat-lihat suasana disana, dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan ternyata “Bryan?”, “Hellen?, apa kabar kamu?” tanyanya dan aku menjawab “baik saja, kamu?”, ia lalu mengajakku makan bersama di kantin. 2 tahun aku berpacaran dengannya dan kini kami akan menikah, tamu-tamu sudah berdatangan, termasuk orangtuaku yang sudah bersatu kembali. Dan tak lama kemudian acara pun dimulai. Kini semua MIMPIku sudah terwujud, Terimakasih Tuhan engkau selalu menyertaiku dan bersamaku. -TAMAT- Cerpen Karangan NiLuh Rika Diantari Facebook Rika Diantari Hai teman, aku Rika, asal Denpasar, sekarang aku sekolah di SMP Dwijendra Denpasar, aku ingin berbagi cerpen buat kalian, enjoy aja ^_^ Cerpen Meraih Mimpi merupakan cerita pendek karangan NiLuh Rika Diantari, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Makhluk Dasar Laut Oleh Shofa Nur Annisa Deas Apa yang kalian pikir saat mengingat laut? Airnya? Pemandangan? Seram?. Semua orang yang pasti berbeda-beda begitu juga dengan pikiran mereka tentang laut seperti ada menurut orang laut itu indah Alien dan Pribumi Oleh Riska Nuraeni Hujan saat itu adalah Hujan di awal bulan Agustus, tidak mengenal pagi, sore atau malam hari, hujan memang tak bisa diajak bernegoisasi untuk berhenti. Banyak orang yang gembira saat Gerdika Adiyaksa Oleh Salma Sakhira Zahra Di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Nama anak laki-laki itu Gerdika Adiyaksa. Mereka hidup sebagai keluarga sederhana di desa tersebut. “Gerdika, ayo antar ibu ke pasar!” This is Story About Their Zayn Malik Part 1 Oleh Asmeralda Austin Asmeralda sibuk menatap poster besar seorang pria tampan didepannya sambil memegang erat kertas ditangannya. Yang ia pajang dikamarnya, tepat di depan ranjangnya. Pria itu memakai tuxedo dan rambut hitamnya Sahabatku Vampir yang Terbaik dan Keren Oleh Dianita Rohima Nst Aku sangat menyayangimu sahabatku vampir yang baik dan keren… Reno Syahputra Namaku adalah Stella Cantika ini cerita pengalamanku tentang aku dan reno dalam persahabatan kami berdua. Ini pertama kalinya “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
MimpiCerpen Karangan: Sri Yanti Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan. Lolos moderasi pada: 29 March 2017. Hujan membungkus desa. Awan gelap menggumpal-gumpal, petir sekali dua menyambar. Dingin. Kurapatkan selimut menutupi tubuh sembari menatap hujan lewat jendela. Deras. B5oqJ1.